Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Riam Bedawat – Hutan Terhijau di Indonesia Dengan Bonus Air Terjun Tinggi Bertingkat

Berburu pemandangan hutan indah di Indonesia, tak lepas dari Pesona Pulau Kalimantan atau yang biasa dikenal dengan Borneo.

Bukan secara kebetulan hal tersebut dinobatkan.

Karena secara fakta dan telah tercatat juga di berbagai media, bahwa Kalimantan masih terdapat hutan hujan tropis tertua di dunia.

Sudah kebayang, bagaimana dengan keasrian dan habitat hayati didalamnya?

Salah satunya provinsi Kalimantan barat yang pada (info terbaru) luas hutan kalbar seluas 8,2 Juta Hektar, namun mengalami “deforestasi”  atau penghilangan hutan alam sebesar 42 ribu hektar per-tahun yang dikarenakan kegiatan alih fungsi lahan hutan untuk investasi.

Seiring berjalannya waktu, pada tanggal 20 Agustus 2018 – Presiden Joko Widodo menyerahkan Surat Keputusan Pengesahan pada Hutan Adat di beberapa daerah Kalimantan Barat, seperti Desa Sahan, Tae, Lubuk Sabuk dll.

Hal tersebut diharapkan untuk meregulasi aktifitas deforestasi yang berpotensi mengurangi jumlah luas Hutan Hujan Tropis Kalimantan Barat.

Namun Jangan Khawatir, masih ada kok beberapa lokasi yang masih terjaga kealamian hutan tropis kalbar.

Bagi kamu yang tertarik untuk masuk ke Hutan tanpa perlu takut tersesat, kamu bisa mencoba untuk menelusuri Air Terjun Bedawat, atau yang biasa disebut Riam Bedawat.

Disini kamu bisa menikmati ketenangan suara sungai alami, sautan burung-burung endemik, melihat perbukitan tanpa harus melewati jalur sawit, karena hutan untuk menuju riam bedawat diketahui sebagai Hutan Adat, seperti yang disampaikan di atas.

Bukan hanya keindahan panorama hutan yang kamu dapatkan, air terjun bertingkat bedawat atau bedawan menjadi pilihan terbaik untuk bersinggah sembari menikmati suasana hutan lindung sekitar.
Penampakan Air Terjun Bedawat Dari Depan

Tak jauh dari riam bedawat, hulu dari pertigaan sungai masih juga terdapat air terjun yang lebih tinggi dari riam bedawat, yaitu Air Terjun Unga.
Penampakan Riam/Air Terjun Unga Dari Bawah
Jalur yang dilewati hanya jalan setapak, tidak ada aspal apalagi pembatas besi.

Karena begitulah esensi yang baik ketika mengunjungi wisata alam “Konvensional”, benar-benar lawas dan mewakili Hutan Tertua di Dunia.

Riam Bedawat, terletak di Desa Dange Aji, Kec Air Besar, Kab Landak, Kalimantan Barat – Indonesia.

Jarak tempuh dari Ibu Kota Pontianak – Kota Ngabang ( Ibu Kota Kab Landak ) sekitar 5 – 7 Jam, untuk akses jalan sudah terdapat aspal, walau masih ada beberapa spot yang berlubang, tapi kualitas perjalanan lebih enak di era zaman sekarang.

Untuk menuju ke Kota Ngabang, kamu bisa melalui jalur lama ( Sui Pinyuh – Anjungan – Mandor – Pahauman – Ngabang ) atau saran terbaik agar lebih cepat dan aspal lebih mulus, kamu bisa melalui ( Pontianak – Ambawang – Simpang Ampar – Sosok – Ngabang ).

Setelah sampai di Kota Ngabang, perjalanan dilanjutkan kembali dengan menyusuri Jalur Kec Air Besar atau yang lebih terkenal dengan sebutan Daerah Serimbo/Serimbu.

Dimana memakan waktu kurang lebih 2 Jam perjalanan.

Update akses jalan pada bulan Maret 2019, untuk jalur Ngabang –  Serimbu sudah 80 % Aspal, ada beberapa KM yang belum teraspal ( masih berlubang, tanah kuning dan berdebu ).

Setelah sampai di Pasar Serimbu, lanjutkan kembali perjalanan menuju Desa Dange Aji, yang memakan waktu kurang lebih 1 Jam-an.
PENTING: DIHARAPKAN MENGGUNAKAN KENDARAAN RODA DUA, KARENA KETIKA MENUJU DESA DANGE AJI, PENGUNJUNG AKAN DIHADAPKAN DENGAN 3 BUAH JEMBATAN GANTUNG YANG HANYA SELEBAR 1-2 METER. JADI HANYA BISA MENGGUNAKAN SEPEDA MOTOR.
Untuk tracking perjalanan dari Serimbu hingga ke muka Desa Dange Aji 20 % Jalan aspal, 40 %  Jalur Sertu ( Paser Batu ), 40 % ( Tanah Kuning ).

Butuh kerja keras, jika melalui pada saat musim penghujan.

Ketika sudah sampai di Desa, pengunjung wajib mengisi buku tamu dan membayar biaya registrasi Rp. 10 ribu per-orang.

PENTING: Jika Ketua RT tidak ditempat, Kamu bisa juga melakukan administrasi di kediaman Kepala Dusun dan Kepada Desa.

Setelah melakukan registrasi, pengunjung wajib menyewa Guide yang berasal dari warga setempat, untuk perihal harga, info terakhir tahun 2018 sekitar Rp 150.000,- .

Harga tersebut sebenarnya untuk paket 10 orang dalam 1 team, jadi per-orangnya dianggap membayar Rp 15 ribu.

Jika pengunjung hanya beranggotakan 5 orang dalam 1 team, harga sewa guide tetap Rp 150 ribu, karena sudah menjadi kesepakatan harga terendah, mengingat perjuangan untuk bisa sampai ke tengah hutan Riam Bedawat dan Air Terjun Unga lumayan menguras tenaga para pemandu jalan.

Lama perjalanan dari Desa Dange Aji sampai ke Spot Riam Bedawat kurang lebih 5 – 6 Jam, tergantung dari kecepatan berjalan, beban logistik yang dibawa dan beban manusia pada team.

Bagi pengunjung disarankan untuk berkunjung pada musim kemarau, seperti di bulan April – juli, dikarenakan akses jalan yang masih terdapat tanah kuning serta menanjak, juga riam bedawat kerap memiliki debit aliran air yang besar, bisa berpotensi air bah, yang dapat menutupi akses jalan pengunjung menuju spot riam.

Ketika lepas dari permukiman desa, pengunjung akan menyusuri beberapa kebun sayur milik warga, biasanya beberapa guide menyarankan untuk mengambil beberapa sayur-mayur yang ada di tepian kebun sebagai tambahan konsumsi untuk camping nanti.

Tapi sebelum di izinkan atau ditawarkan oleh guide, jangan sembarangan mencomot sayur dikebun ya, karena resiko nya dapat dihukum adat atau parahnya dapat keracunan (katanya begitu).
Intinya jangan malu jika ingin meminta dan bertanya.
Selepas meniti beberapa kebun warga, pengunjung akan dihadapkan dengan pemandangan hutan tropis tua yang hijaunya benar-benar memanjakan mata.

Saut-sautan burung bukan menjadi hal yang langka, apalagi pada saat hiking malam, pengunjung akan mendengar suara terompet bersautan yang diketahui berasal dari binatang ulat kepompong pohon (kalau tidak salah), belum lagi mendengar Kodok Bangkong, menjadi sound therapy alam yang benar-benar membuat pengunjung rindu untuk kembali ke Air Terjun Bedawat.

Setelah 3 jam perjalanan, pengunjung akan sampai di pertengahan checkpoint, yang bernama Pulau Seribu, biasanya disini menjadi tempat istirahat pengunjung, dikarenakan ada sebuah pondok yang lumayan besar dan nikmat untuk leyeh-leyeh sembari mengembalikan tenaga untuk summit ke puncak riam bedawat.
Suasana Pulau Seribu pada malam hari
Tapi pada Desember 2018 lalu, pondok yang dimaksud sudah tidak ada lagi, alias di robohkan oleh empunya keluarga, dikarenakan Sang pemilik sudah meninggal dunia, yang disebabkan kecelakaan kerja saat memotong (menyenso) kayu/pohon.

Informasi tersebut kami ketahui tempo lalu, pada saat kami sampai di pulau seribu di pukul 21:00 WIB.

Singkatnya, kami bertemu dengan seorang guide yang baru pulang mengantar pengunjung lainnya ke Riam Bedawat.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami pun mengajak guide tersebut untuk santai bersama, makan malam dan yang paling penting adalah ngopi bareng.

Guide yang satu ini asyik sekali, beliau dengan terperinci menceritakan beberapa kronologi Air Bah yang menimpa Kawasan riam bedawat, parahnya sampai menutup jalan tikus pengunjung hingga ketinggian 4 meter. Alias sudah seperti sungai besar yang menggenang jalan.

Nah… sesudah beliau menceritakan bencana air bah tersebut, salah seorang dari kami, bertanya:
“Jadi, pondok yang besar ini, roboh dikarenakan terjangan air bah juga, Pak?”
Beliau menggelengkan kepala, dan menceritakan kisah yang sebenarnya, bahwa pondok itu sengaja dirobohkan oleh keluarga besar empunya Pondok, yang baru meninggal 1 bulan yang lalu karena tertimpa pohon alias kecelakaan kerja.

Kami pun saling menoleh satu sama lain, lalu kompak tidak memperpanjang keingintahuan kami terkait robohnya pondok tersebut.

1 Jam kemudian Guide tersebut pamit undur diri untuk pulang ke Desa, lalu berjalan dengan santai, sambil melirik beberapa pucuk pepohonan, berharap menemukan tupai atau buruan sejenisnya.

Tangan kanan menapak senapan yang ditenteng perkasa pada sekitar bahu, dengan rokok menyala selalu dikatup mulut Sang Guide.

Kami sedikit bergumam, Jangankan menganggu, melintas kearah Guide ini pun, penunggu dihutan ini dijamin tidak akan berani.

Singkat cerita, kami bertiga langsung masuk kedalam tenda untuk segera tidur.
Antara ngantuk dan takut.
Karenakan keesokan harinya, kami menunggu guide yang akan membimbing kami ke Riam Unga.

Sabtu pagi sekitar pukul 07:00, Guide yang kami maksud sudah sampai dipulau seribu, yaitu lokasi camp kami yang bertetangga dengan pondok roboh.

Setelah sarapan, ngopi dan packing, kami yang sekarang sudah genap ber-empat, melanjutkan pertualangan menuju spot riam bedawat.

Dibawah ini video dokumentasi ketika berkunjung ke riam bedawat pada tahun 2017


Guide membawa kami menyusuri jalan pintas, yang lumayan menguji adrenalin, yaitu menyebrangi sungai yang lumayan deras.

Melompat-menapak ala Naruto menjadi keharusan kami pada saat itu, meniti tiap bebatuan besar, kecil dan terdapat juga yang licin.

Menjadi tugas yang lumayan berat bagi beberapa dari kami yang membawa Carrier belasan kilogram, seperti aku yang hampir hanyut karena terpeleset licin oleh bebatuan yang penuh lumut.

Setengah badan ini sudah tercebur seraya menahan derasnya air yang menghardik, bermodalkan tracking pool untuk beranjak bangkit, dan akhirnya sukses berdiri kembali di batu.

Teman-teman yang sudah menyebrangi hanya bisa bergidik shock, sampai-sampai ada yang siap untuk beranjak ke hilir, yang menyangka aku akan hanyut kembali ke Pulau Seribu.

Sesudah berhasil menyebrangi sungai, kami dihadapkan dengan pemandangan hutan yang benar-benar lembab, gelap dan tenang.

Insting pengalaman pun memberikan sinyal kewaspadaan.
Hati—hati Pacat atau kemungkinan terburuknya, ULAR !!
Disini karena aku yang membawa carrier yang sedikit lebih besar, aku meminta untuk memimpin jalan, agar bisa mengatur ritme perjalanan yang lebih cepat.

“Karena untuk membawa tas keril yang lumayan berat, sangat tidak enak sekali jika berjalan lambat, karena terlalu banyak menguras tenaga pada tungkai kaki, solusi terbaiknya adalah berjalan dengan tempo yang lebih cepat”

Selain itu, mempercepat langkah juga, meminimalisir atas serangan pacat, walau sebelumnya kaki -kaki kami sudah dilumuri balsem, sebagai anti pacat.

Asli.. hutan yang kami lalui ini, benar-benar lebat, tapi tidak terlalu menanjak, alias trackingnya lumayan landai.
Aliran sungai dari air terjun bedawat, sungguh jernih, bukan?
Berbeda dengan jalur utama (yang tidak menyebrangi sungai), tanjakan tinggi dan lumayan Panjang, yang pernah kami lalui pada 2017 lalu.

Nah, bagi kamu yang akan beranjak ke riam bedawat, disarankan untuk melalui rute sebrangan sungai, dijamin landai dan sangat teduh nan lembab.

Pukul 10 pagi, kami sampai di tepian sungai dengan berbagai batu-batu besar, didepannya Nampak pondok-pondok penginapan, pertanda sedikit lagi kami akan sampai di spot camp Bedawat.

Sebelumnya, kami mengecheck terlebih dahulu dibeberapa anggota badan, apakah si lintah itu menempel atau tidak?

Alhasil, aku membawa 7 – 9 buah pacat di punggung kaki, betis dan lutut, belum lagi salah satu teman ku mendapatkan lintah gemuk di punggung badannya.

Setelah melakukan ritual pelepasan bala (pacat), kami melanjutkan penyebrangan manual menuju camp.

Penyebrangan dilakukan dengan estafet, dan badan hingga leher wajib tenggelam di aliran sungai, jadi dapat di representasikan seperti aktivitas anak-anak sekolah yang kebanjiran.

Dibawah ini, dokumentasi video ketika saya kembali mengunjungi riam bedawat pada tahun 2019.


Karena yang terpenting tas tidak basah.
Untuk letak riam bedawat, terdapat dibelakang camp.
Kami pun istirahat, menyiapkan makan siang, dan bercengkrama terhadap pengunjung lainnya yang sudah melakukan camping sejak semalam.

Nah… di sekitaran camp ini, masih banyak terdapat burung enggang gading yang berterbangan bebas, bersahut-sahutan tanpa perlu takut oleh pemburu.

Kami bertiga sangat senang sekali melihatnya, sepertinya mereka menyambut baik kedatangan kami.

Perlu kamu ketahui, bahwa burung enggang gading merupakan hewan yang dilindungi, sudah ada undang-undangnya, jadi jangan sekali-kali untuk memburunya apalagi untuk disantap.
Agenda mencuci piring bersama, tidak ada kata bermalas-malasan disini !!

Hanya burung ruai yang belum kami lihat secara langsung pada saat itu.

Sekitar pukul 12 an siang, kami beranjak kembali untuk menuju ke riam unga, yang hanya sekitaran satu jam dari camp.

Kali ini, kami tidak membawa tas keril, alias hanya membawa tas selempang kecil dan daypack.

Untuk menuju ke riam unga, pengunjung harus lebih hati-hati dalam menapakkan langkah, karena jalur yang dilalui memiliki tingkat kemiringan yang lumayan memacu adrenalin.
Situasi ketika saya menemukan ular melintas di atas kami pada sebuah batang pohon vertical.
Salah sedikit saja bisa jatuh ke jurang, yang lebih didominasi dengan bebatuan sungai.

Beberapa kali kami menemukan ular melintas, dihadapan kami, mungkin dikarenakan ularnya ramah, sehingga kami sama sekali tidak menarik untuk dipatuk manja oleh ular.

Selanjutnya, akan dilanjutkan pada artikel yang mengulas tentang penelusuran Air Terjun Unga.

Terima kasih.
Guido Famula
Guido Famula Seorang Penulis Online yang menyukai Traveling, Aset digital, Marketing dan Social Media... ~ Beranjak dan Menulislah ~

Posting Komentar untuk "Riam Bedawat – Hutan Terhijau di Indonesia Dengan Bonus Air Terjun Tinggi Bertingkat"

Template Blogger Terbaik Rekomendasi