Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Air Terjun Riam Dait - Tapak Tilas Gugusan Surganya Kalbar

Air terjun terindah yg pernah saya kunjungi tempo lalu, pada 12 september 2016 merupakan salah satu destinasi wisata yg membuat saya ingin kembali kesana.
FYI: Saya kembali mengunjungi air terjun dait pada tanggal 7 April 2019, tempatnya makin bagus dan alami
Lebay ya? Tapi tidak bagi mereka yg pernah sampai ke Air Terjun Dait, berada di Ds Sekendal, Kec Air Besar, Kab Landak, Kalimantan Barat.
Salah satu spot air terjun yang cocok untuk kemah keluarga atau bersama kerbata terdekat
Foto air terjun riam dait tingkat kedua.
Diambil 7 April 2019
Tentu bagi kamu yg sudah pernah berkunjung disini sangat setuju, terlebih dengan kesegaran air, serta gemuruh dentuman air yg konstan memanjakan telinga.

Dengan suasana berkemah yang sangat damai dan tenang, terlebih jika sedang tidak ramai pengunjung, benar-benar tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota yg kerap kali membangkitkan stress.
inilah dokumentasi ketika sedang membuat perapian untuk menghangatkan tubuh
Momen pagi hari di riam dait tingkat dua, pada tanggal 7 April 2019
Sajian keemas-an permukaan kolam air terjun menjadi daya tarik pengunjung, termasuk saya pribadi yang sempat terperangah, ketika melihat warna yg sedikit kuning dan kecoklatan.

Rupanya kamuflase kejernihan tersebut dikarenakan dasar dari kolam yang mayoritas pasir hampir tanpa batu, beda dari sungai atau kali pada umumnya.

Sejuk nya air sangat berbeda dari sejuk air yg biasa saya rasakan yaitu ‘para konsumen freon’, tentu kamu yg sering berkunjung ke curug atau riam merasakan hal yg sama, sejuk nya yg terasa jauh berbeda ketimbang seharian minum air dari lemari es atau kulkas.

Tapi untuk mendapatkan keindahan tersebut harus dibayar dengan peluh keringat perjuangan.

Telah diketahui bahwa Kalimantan barat, salah satu provinsi yg masih minim dari pemerataan infrastruktur, terutama beberapa jalan masuk desa, salah satunya akses masuk surganya borneo ini.
ketika musim penghujan tidak direkomendasikan menyusui jalur terjal ini.
Perjalanan 30 menit lagi untuk sampai ke muka riam dait tingkat pertama.
Saya merasakan langsung pentingnya infrastruktur, ketika awal masuk desa sekendal hingga mencapai muka gerbang air terjun riam dait.

Untung saja kala itu masih diberikan kemudahan dengan cuaca kemarau, tak mampu untuk membayangkan, bagaimana jika saat saya berkunjung tempo lalu, pada saat cuaca penghujan dan basah mengguyur seluruh jalan desa ketika menuju destinasi air terjun emas ini?
Yang pasti AMBYAR !!
Tanjakan yg terjal dengan minimnya perlakuan lanjutan, menjadikan siapa pun yg memacu kendaraan baik itu mobil atau motor, harus mengerahkan segenap  kekuatan, kelincahan dan yang paling terpenting adalah berdoa agar selamat sampai pulang.

Karena selain terjal, tepian sebelah kanan ketika jalan pergi, tidak sama sekali ditemukan pembatas jalan, alias saya bisa dengan mudah menikmati panorama jurang yg dihiasi dengan beberapa pepohonan tumbang dan hutan yg lebat dikejauhan.
Diharapkan para yg dibonceng turun dari motor dan melakukan jalan kaki untuk menyusuri puncak trekking
Para yang dibonceng, menyusuri terjalnya jalanan secara bejalan kaki, sementara kami yg membonceng berusaha untuk menaikkan kendaraan kami masing-masing, 12 September 2016.

Saya bergidik, rute yg dilewati saat itu seperti bentuk celurit atau arit, melengkung, meliuk, terjal serta jalan yg dilalui tidak mulus seperti aspal “melainkan licin”, dan terdapat banyak selokan bekas jejak ban kendaraan sebelumnya.

Selokan nya pun dapat dibilang sekitar setengah meteran, dengan tersusun horizontal 5 barisan lebih hingga keujung batas jurang.
Hati-hati bagi pemotor yg melalui jalur ini, karena selokan dikenal dalam dan terjal
Seperti ini pemandangan selokan drainase nya hehehe
Jadi ketika berkendara, harap cemas jika salah satu ban depan atau belakang terperosok ke selokan, dijamin bakal jatuh atau parahnya terguling kebawah jika berpacu dengan kecepatan tinggi.
Huft.. LEBAY PEMIRSAH !
Tapi yg Namanya petualangan, kata orang-orang ya memang harus begini, berbeda sekali dengan jalan mengunjungi mall di kota.

Berikut video dokumentasi kami, diambil pada 7 April 2019

Entah, saya pun tak habis fikir ?!
Walaupun sudah mengetahui gambaran seperti apa terkait rute dan akses trekking tersebut, sama sekali tak menyurutkan beberapa pengunjung untuk bertamu kesana, sampai-sampai ada yang ketagihan untuk kembali ke sana, termasuk saya sendiri. hehehe
Pada tingkat dasar rombo dait sangat baik untuk dijadikan tempat berkemah, selain aman, lokasinya juga memiliki spot bagus untuk menikmati pemandangan riam
Sore hari ketika di riam dait tingkat satu, 12 September 2016

Untuk perihal biaya masuk, dapat dikatakan terjangkau: untuk 1 orang dikenakan biaya Rp 10.000 dengan pembayaran di muka saat masuk desa sekandal, lalu ditambah biaya parkir Rp. 10.000 ketika sampai dilokasi riam dait, jadi total pengeluaran untuk simaksi atau HTM senilai Rp. 20.000,-.
Update: Ketika saya bekunjung pada 7 April 2019, kita hanya perlu membayar Rp. 10.000 , registrasi nya dibayar di Dusun Sekendal.
Cukup murah bukan?

Apa saja yg saya dapatkan disini?
Kami berlima anggota mempersiapkan makan malam
Persiapan persiapan makan malam, 7 April 2019

Bukan sesi BBQ, hanya menumpang perapian demi menghangatkan tubuh, lokasi di tingkat 1 riam dait.
Keseruan nikamt makan malam bersama di riam tingkat 2
Momen makan malam bersama hanya 5 orang, 7 April 2019
Momen berkemah pada malam hari merupakan situasi yang direkomendasikan untuk melakukan ghibah hehe
Foto saya ketika bercengkrama dengan salah satu teman yg bernama Egi alias Vijay
pada riam dait tingkat satu, 12 September 2016
Selain teman baru, suasana tenang damai yg mungkin sulit untuk didapat ketika dikota menjadi daya tarik tersendiri bagi saya pribadi, belum lagi air terjun dait dikenal dengan sebutan 7 tingkat.
Menyusun perlengkapan dan peralatan untuk summit ke tingkat 3 dan seterusnya
Momen malam hari ketika berkemah di air terjun dait tingkat dua, pada tanggal 7 April 2019

Jadi ketika berkunjung kesini, tak sah untuk mengunjungi ke 7 tingkatan tersebut, penuh harap ingin melihat langsung.

Namun pada kenyataannya, saya dan teman-teman yg tergabung dari 20 orang hanya mencapai di tingkat 5 saja, yg pada tanggal 12 September 2016.
Momen sore hari ketika foto-foto ditingkat pertama rombo dait
Pemandangan pagi hari di riam dait tingkat 1, diambil menggunakan samsung core 2, cukup buram bukan? heheh

Karena banyak pertimbangan dan berbagai hal, selain jauh, perihal keterbatasan tenaga juga menjadi perhitungan, karena dari informasi yg saya dapatkan untuk pergi ke tingkat 7 menyajikan track yg lumayan Panjang, serta akses yang sulit.

Dikenal masih angker, masih terdapat binatang buas dan jika beruntung pengunjung dapat melihat secara langsung hewan endemik kalbar yaitu, enggang gading dan burung ruai.

Menurut penuturan kerabat yang sudah sampai: Saking lebatnya, ketika sampai di tingkat 7 seperti di malam hari karena rapatnya pepohonan.
Kondisi hijau dan asri pada rombo dait tingkat enam dan tujuh
Pemandangan hutan sekitar air terjun dait tingkat 6 - 7
Ohh, sungguh bukti Kalimantan menjadi paru-paru kedua didunia, semoga ini tetap terjaga sampai anak cucu kita nanti.

Mungkin lain cerita, jika dalam kelompok lebih dominan laki-laki, tak menutup kemungkinan saya dan teman-teman dapat mencapai ke puncaknya air terjun dait itu.
Terbukti pada tanggl 7 April 2019, saya teman-teman telah sampai di puncaknya Air terjun riam Dait.
Tapi untuk perihal keindahan panorama dan sudut pandang, tetap lebih indah ketika berada di tingkatan ke-5, selain tinggi dan lebar, terdapat lapangan untuk bersantai ria didepan muka air terjun yang terpampang luas, tanpa perlu desak-desakan, siapapun dapat menari secara berkelompok tanpa mengganggu pengunjung yg lain.
Situasi keramaian pada rombo dait tingkat lima, dijamin seru dan bikin kangen untuk kembali kesini
Pemandangan riam dait tingkat lima

Terlepas dari kesenangan, pengunjung juga mesti hati-hati ketika akan mendekati dinding riam tersebut, karena ada beberapa spot Panjang seperti palung yang lumayan dalam mematah antara sekitaran dinding dan lokasi lapangan yg saya maksud di atas.
Hati-hati ketika berkunjung kesini jangan sampai terperosok, karena lumayan tinggi jika sampai jatuh ke bawah
Puncak tingkat lima menuju tingkat enam, 7 April 2019

Biasanya untuk mereka yg memburu foto bagus, akan mendekati dinding tersebut, jadi sangat dituntut kehati-hatian pengunjung.

Berikut momen 7 April 2019, ketika kami tersesat mencari tingkat 6 dan 7, kami menggunakan jalur baru, karena jalur lama sudah tidak kelihatan jejaknya, yang kata warga setempat terkena imbas air bah, simak video berikut:


Sebenarnya untuk mendekati dinding riam memang tidak direkomendasikan, bukan hanya khawatir terkena guyuran besar air atau terperosok ke palung, melainkan kewaspadaan jika terjadi runtuhan beberapa bongkahan batu dari atas.
Who knows yaa?
Setelah berpuas diri mandi, berenang dan berfoto-foto di tingkatan 5, saya dan teman-teman langsung balik ke spot kemah yg kami tinggalkan ditingkat 1.
tidak direkomendasikan untuk berkemah di area rombo dait tingkat tiga ini
Pemandangan riam dait tingkat tiga, 7 April 2019

Perlu diketahui bahwa rute jarak perjalanan dari tingkat 1 – 5 tidak terlalu jauh, kurang lebih 30 menit-an, bahkan jika dengan gerak cepat tanpa melakukan vlog atau foto-foto bisa sepuluh menitan.
Jalur terjal menuju rombo dait tingkat 5 sangat memberikan kesan berarti bagi para pengunjungnya.
Rute trekking ketika menuju air terjun tingkat 3 - 5
Sembari menyusuri hutan untuk kembali, kami mengabadikan beberapa spot indah di setiap perjalanan, yaitu menikmati pemandangan unik setiap aliran dan patahan sungai hingga menuju turun ke tingkat 1.

Berikut video dokumentasi untuk meraih tingkat tiga dan seterusnya.


Benar-benar bersih, jernih dan tidak berbau, memang betul bahwa nilai kualitas kealamian selalu nomor 1.

Selelah apapun kala itu, sama sekali tak terlintas dalam benak untuk menyesalkan, yang ada hanya keinginan untuk melakukan pengulangan berkunjung ke Air Terjun dait.

Entah kapan waktu dan kesempatan itu akan kembali terwujud, terlebih saya dikota lumayan tersandra dengan ketidakpastian dan rutinitas, sulit sekali mencari waktu yg pas.

Pertimbangan cuaca, waktu libur dan tentunya kesamaan waktu terhadap sahabat atau teman yang memiliki keinginan berkunjung kembali ke riam dait.

Untuk menjadi solo traveler dalam menyusuri Hutan Kalimantan, sangat tidak direkomendasikan
Momen yang bakal kalian rindukan ketika menjelang Tua
Foto bersama di riam dait tingat dua, beluma pada mandi dan gosok gigi. 7 April 2019

Semoga tahun 2020 ini saya bisa mengulangi untuk ketiga kalinya menikmati alam raya hutan Kalimantan barat yg indah ini. Amin.
Momen berharga ini akan mengingatkan kita bahwa kita pernah bersenang-senang bersama tanpa harus mewah
Momen foto bareng di air terjun dait tingkat satu, pada tanggal 12 september 2016
Sekian tulisan sederhana ini, semoga dengan pengalaman ini bermanfaat bagi kamu dan kita bisa saling mengisi melalui kolom komentar dibawah ini.

Terima kasih. Salam Lestari.
Guido Famula
Guido Famula Seorang Penulis Online yang menyukai Traveling, Aset digital, Marketing dan Social Media... ~ Beranjak dan Menulislah ~

Posting Komentar untuk "Air Terjun Riam Dait - Tapak Tilas Gugusan Surganya Kalbar"

Template Blogger Terbaik Rekomendasi