10 Fakta Misteri Gunung Everest Yg Kerap Di Perdebatkan Dunia

Gunung Everest salah satu sarang perangkap kematian bagi para pendaki, tak memilih pemula atau berpengalaman, keduanya berpotensi mengalami kematian, baik itu dikarenakan kecelakaan atau mengalami penyakit ketinggian yang biasa disebut altitude sickness.

Pada tahun 2019, pembukaan kematian pendaki Gunung Everest terjadi pada tanggal 17 Mei 2019, tepat pada hari jumat. Yaitu seorang pendaki dari India, yang bernama Ravi Thakar, kematiannya ditemukan didalam tenda pada ketinggian 7.920 MDPL, beberapa saat setelah dia Sampai Puncak Everest.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sumber gambar: merdeka.com

Banyak desas-desus beredar, selain sebagai Gunung Tertinggi didunia, Everest kerap dianggap angker atau berhantu, karena dimana terdapat pendakian setidaknya 1 atau 2 akan memakan korban jiwa.
Total kematian yang “terdata” sampai 2019 sekitar 300an pendaki.
Beberapa pendaki banyak yang ingin sampai ke Everest tak terkecuali Pendaki dari Indonesia, namun seiring dengan banyaknya kematian tersebut, banyak dari beberapa pendaki yang sudah mapan secara financialpun, menguburkan dalam-dalam hasrat untuk memijakkan kaki di puncak tertinggi dunia tersebut.

Beberapa misteri yang belum tentu kebenarannya pun, bergema dimana-mana hingga kepenjuru dunia.

Terkait dengan hal tersebut, gofalatrip.com yang dilansir dari alanarnette.com akan menyajikan 10 Fakta misteri yang wajib kamu ketahui jika penasaran akan Gunung Everest dan berencana akan mengunjunginya dalam waktu dekat ini.

1.Kebenaran akan Puncak Everest kerap dibiarkan menjadi tumpukan sampah adalah tidak tepat.

Tak dipungkiri bahwa di gunung everest memang terdapat beberapa sampah, tapi menurut pengalaman alanarnette.com sama sekali tidak menyaksikan dengan apa yang dimaksud dengan tumpukan pembuangan sampah tersebut.
Jika suhu naik sampah yg berserakan dijalur pendakian everest akan bermunculan ke permukaan
Sumber gambar: news.okezone.com

Beberapa yang terlihat hanya, seperti; tenda robek, tali-tali tua dan yang pastinya bungkusan makanan yang suatu waktu bisa berterbangan kesana kemari dan tertawa.. (kayak lagu ya?)

Terkait dengan “tumpukan sampah” yang kerap terdengar, hal tersebut memang benar dan pernah terjadi ketika gletser/icefall “Khumbu” mencair, sehingga mengakibatkan beberapa tumpukan sampah lawas tampak ke permukaan, akan tetapi sampah tersebut sebagian besar sudah dipungut secara teratur hingga sekarang.

Hanya saja banyak media yang memframing pada sesi “tumpukan sampah” yang tampak dipermukaan ketika beberapa gletser Khumbu mencair.

Faktanya yang dilansir dari pihak Asian Trekking ( Pemandu Yang Berbasis di Nepal ), telah menjalankan ekspedisi pengumpulan sampah selama beberapa tahun belakangan ini.
Setiap tahun banyak aktivis yg melakukan agenda pemungutan sampah di everest
Sumber gambar: medan.kompas.com

Salah satu sampah yang paling banyak berserakan adalah botol bekas oksigen para pendaki terdahulu.

Sampai hari ini, semua botol telah diturunkan dari Gunung Everest, dalam beberapa hal terkait penanggulangan sampah di everest, banyak pendaki yang menggunakan kantong/Tas Biodegradable ( wadah yang dapat didekomposisi oleh bakteri atau organisme lainnya ).

Upaya pengurangan sampah di everest terus digalakan, pada tahun 2015, angkatan darat india tetap tinggal di camp pangkalan everest setelah gempa bumi, demi siaga dalam memindahkan puing-puing yang dikarenakan longsor ke daerah sekitar pangkalan.

2. Calon peserta pendaki perlu membayar $65.000 (2015) atau setara Rp. 942.123.000 (kurs $1 = 14.494) untuk bergabung ke ekspedisi pendakian Gunung Everest, dapat dikatakan benar tapi secara keseluruhan masih salah (karena banyak oknum yang terlibat)

Mayoritas pendaki, sekitar 90 % membayar “biaya kotor” sekitar/kurang dari $45.000 yang sudah termasuk perizinan (SIMAKSI), untuk total bersihnya $30.000, karena setiap pendaki perlu membayar $11.000 ke pemerintah Nepal (mungkin pajak) sebagai biaya izin pendakian pada musim semi.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sumber gambar: sipbuletin.com

Untuk pendakian pada musim gugur sekitar $5.500 dan harga akan kembali turun jika pada musim panas atau dingin yang sekitar $2.750.

Kembali pada soal harga, tentu perihal mahal berbanding lurus dengan include yang ditawarkan.

Seperti sebagian besar agen “barat”, beberapa diantaranya Adventure Consultants atau Alphine Ascents yang menyajikan daftar harga lebih tinggi menjadi $65.000, dan takjubnya masih terjual secara teratur pada jadwal pendakian.

Apa saja yang didapat dengan harga yang hampir sekitar 1 milyar rupiah tersebut?

– Makanan berkualitas tinggi (high class untuk pendaki)

– Prakiraan cuaca yang top markotop, mungkin ahlinya ahli

– Panduan sherpa yang berpengalaman nan berdedikasi tinggi

– dan masih banyak lagi.

Dalam tahun 2015 belakangan, guide lokal yang berbasis di Nepal telah semakin baik dan mampu memandu sekitar 70% anggota yang akan ke Everest.
momen ini dapat ditemukan ketika jadwal padat mendaki gunung everest
Sumber gambar: travel.tribunnews.com

Untuk perihal biaya, cenderung lebih murah dibandingkan dari pemandu barat pada umumnya, hanya sekitar $30.000 – $40.000.

Terkait hal tersebut, muncul beberapa kasus yang terjadi pada agen pemandu lokal, seperti:

– Diketahui pihak bos/petinggi guide, kerap membayar rendah kepada staff/pembantu mereka.

– Belum memiliki metode/alat prakiraan cuaca yang mumpuni maupun profesional.

– Serta staff yang masih memiliki pengalaman minim di everest.

Jika kamu penasaran terkait dengan harga paket pendakian di everest terbaru, simak pada artikel berikut:

http://www.alanarnette.com/blog/2018/12/17/how-much-does-it-cost-to-climb-mount-everest-2019-edition/

3. Mayoritas Peserta pendakian tidak siap mendaki? Dapat dikatakan benar atau salah, simak berikut ini.

Menurut pengalaman Alan Arnette, banyak terdapat perubahan situasi sejak awal pendakian beliau.

Beberapa pendaki yang dianggap cukup berpengalaman, contohnya yang telah melakukan pendakian Puncak Denali (6194 MDPL), Aconcagua (6980 MDPL), serta Gunung-gunung yang memiliki ketinggian 8000an MDPL, selalu siap sedia ikat pinggang/body harness di masing-masing pendaki, seperti yang dilakukan juga pada pendakian Gunung Cho Oyu (8201 MDPL).
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sumber gambar: sosok.grid.id

Sejak 2015, sangat miris melihat beberapa pendaki, terutama pendaki muda/mudi yang akan mendaki Kilimanjaro atau pegunungan sekitar India atau Nepal.

Mereka 100% sangat bergantung terhadap masing-masing pemandu mereka dalam beberapa aspek. (dapat dikatakan pemula yang ngeyel nan manja).

Beberapa kasus yang lumayan menohok, masih terdapat yang mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan cuaca, iklim dan Murah (bukan spesifikasi pakaian pendakian gunung ekstreme), belum lagi mereka yang menggunakan paket ekspedisi murah, tentu mendapatkan guide/pemandu yang kurang berpengalaman juga.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sumber gambar: batam.tribunnews.com

Sayangnya, beberapa perusahaan guide yang berpengalaman termasuk perusahaan dari barat yang terkenal. tampaknya mulai mengikuti untuk mengambil anggota/staff dengan minimnya pengalaman mendaki everest, dengan asumsi program paket mereka akan sangat mudah terjual dan terdengar murah bagi calon pendaki Everest.

Walaupun beberapa dari pendaki melakukan pelatihan dasar di base camp, tak menutup kemungkinan membuat situasi buruk akan semakin buruk nantinya, karena minimnya fasilitas dan pengetahuan agen/staff ketika dalam perjalanan puncak.

4. Beberapa Sherpa melakukan pemaksaan atau penyeretan terhadap Anggota pendaki untuk SUMMIT ke puncak. Ini merupakan pernyataan yang tidak tepat !

FYI, Sherpa adalah salah satu panggilan yang mewakili suku atau warga sekitaran Nepal dan Tibet yang bermukim di lereng-lereng Pegunungan Himalaya.
Sherpa= Porter pendakian
Yang pertama, para Sherpa juga ingin terus hidup, karena dengan mengambil inisiatif meneyeret salah satu atau beberapa pendaki untuk menuju puncak sangat dan sangat membahayakan nyawanya sendiri.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sumber gambar: emosianisme.com

Mereka lebih termotivasi untuk mendapatkan tambahan $1000 atau lebih terkait dengan bonus dan tips, dari pada harus memaksa pendaki untuk segera sampai puncak

Dalam hal ini para Sherpa tidak mungkin memaksa dan memberikan tekanan kepada pendaki untuk segera/harus sampai puncak.

Terdapat beberapa pengecualian, dalam beberapa banyak kasus yang terjadi, Si Pendakilah yang kerap memaksa Sherpa untuk tetap menuju puncak.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sumber gambar: kumparan.com

Berikut: Contoh Kasus pada tahun 2012.

Seorang pendaki yang bernama Shriya Shah Klorfine yang ditemukan Tewas oleh laporan Sherpa yang memandunya.
Kronologis sang dikarenakan Shriya menolak untuk berputar balik dari jalur menuju puncak.
Alhasil Shriya yang terlalu memaksakan kehendak, mengalami kehabisan oksigen pada jalur pendakian dan akhirnya Tewas karena keegoisannya sendiri.
Keluarga dari Shriya menghabiskan biaya sekitar $30.000 untuk membayar Sherpa yang telah melaporkan kematian Shriya, sebagai upah membawa tubuhnya kembali dengan bantuan helikopter.

5. Tibet lebih aman dari pada Nepal? Bisa benar bisa salah..

Sebelum tahun 2014, setidaknya angka kematian lebih sedikit di sisi utara dibandingkan dengan sisi selatan atau yang akrab disebut “rute south col”.

Kisah terbunuhnya 16 Sherpa pada tahun 2014 dan 19 orang di base camp tahun 2015 yang dikarenakan glacier atau gletser Khumbu mengalami keruntuhan “biasa disebut reruntuhan gletser Khumbu yang paling menantang para pendaki”.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Tibet
Sumber gambar: makaluadventure.com

Hingga saat ini daerah selatan “south col” menyumbang 2/3 kematian dari total 282 matinya pendaki di Gunung Everest pada tahun 2015 belakangan.

Namun, melihat perbandingan pendaki yang sampai ke puncak terhadap total kematian, daerah selatan pada Nepal terhitung lebih aman dengan ratio pendaki yang sampai puncak 4.421 orang dengan jumlah kematian 176 Jiwa, setara 3,98 %.

Jika dibandingkan dengan dengan jalur Tibet, peserta yang berhasil melakukan Summit ke Puncak Everest sebanyak 2.580 Pendaki dengan total kematian yang terdata berjumlah 106 kematian, setara 4,1 %. (data terkahir pada agustus 2015).

Sejauh ini, beberapa pemandu lebih suka melalui trek dari Nepal yang dianggap lebih familiar, selain itu Nepal juga lebih stabil “aman” secara politik dibandingkan melalui Tibet (China).

Tapi ada juga sebagian “oknum” pemandu, yang mengeksploitasi berita kematian pendaki pada daerah Nepal (selatan) secara besar-besaran untuk memberikan keuntungan pemandu “sisi utara” dalam mendapatkan calon peserta pendaki Everest agar ingin melalui pendakian dari Tibet “Utara”.

Jika terdapat berita kematian pendaki baru-baru ini di daerah selatan, pihak utara akan gencar mengekploitasi dengan berbagai media.
Pada umumnya para pendaki menjadi nepal sebagai basecamp mereka
Nepal
Sumber gambar: basecamptreknepal.com

Pada intinya, Kematian selalu dan bisa saja terjadi dikedua sisi ini, yaitu Nepal dan Tibet, namun yang menjadi sorotan adalah ketika buruknya cuaca dan salah menentukan tempat.

Sebagai contoh kasus, pada tahun 1922, diketahui 7 Sherpa terbunuh sia-sia di sisi utara “Tibet” akibat longsor salju.

“Tempat yang benar pun bisa salah, ketika keliru memprediksi cuaca, dan parahnya sudah tahu cuaca tidak mendukung alias tidak aman, beberapa pendaki masih tetap melanjutkan pendakian”.

6. Kebanyakan Pendaki Mati di Reruntuhan Es Khumbu ( The Khumbu Icefall ), sejauh ini masih dianggap kurang tepat

Terjatuh merupakan penyebab utama maraknya kematian di Gunung Everest pada tahun 1967 hingga 2015, yang dikutip melalui pernyataan “The Himalayan Database”, sedangkan untuk reruntuhan bongkahan es berada di urutan dibawahnya dengan jumlah kematian 15 Jiwa.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Es Khumbu
Sumber gambar: satoriadventuresnepal.com

Namun ini merupakan salah satu dari sekian banyak penelitian kematian Everest dalam bentuk bencana.

Pada kasus Reruntuhan es Khumbu “The Khumbu Icefall” terdata 30 kematian jiwa pada tahun 2015, untuk penyakit ketinggian “Altitude” dan penyakit-penyakit ketinggian atau situasi berada di urutan ke 90 dalam potensi kematian pendaki di Gunung Everest.

Dari tahun 1921 – 1999 terdata 170 orang mengalami kematian dari 1169 Pendaki yang sekitar 14,5 % pada puncak tertinggi dunia ini.

Sedangkan pada tahun 2000 – 2015 dari 5.832 Pendaki yang terdata meninggal hanya 112 jiwa ( 1,9 % ), melirik dari data tersebut, bahwa telah terjadi penurunan drastis pada tingkat kematian pendaki di Gunung Everest.

Telah diketahui juga, dalam kurun waktu 2 tahun antara 2014 – 2015, sisi yang lumayan menyumbang kematian adalah pada sisi selatan “Nepal”, dengan 16 Jiwa di tahun 2014, dan 19 Jiwa pada akhir tahun 2015.

7. Sherpa dipaksa bekerja untuk anggota pendaki yang kaya raya? Pernyataan ini salah besar !

Perlu diketahui, bahwa para Sherpa memiliki otoritas sendiri dalam memilih pekerjaan, tidak ada unsur paksaan untuk bekerja kepada siapa dan untuk apa.

Terlepas dari rumor tersebut, pada kenyataannya Nepal merupakan salah satu Negara miskin di Asia yang berujung pada kesempatan kerja yang terbatas.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Kegigihan sherpa untuk mencari nafkah
Sumber gambar: inet.detik.com

Dengan keuntungan menjadi Pemandu Everest, warga lokal “Sherpa” dapat menghasilkan $3.000 bahkan lebih dalam 6 minggu bekerja.

Dengan demikian, karir tersebut sangat menguntungkan bagi mereka yang melakoninya, terlebih rata-rata penghasilan warga Nepal hanya sekitar $700 per tahun.

Sebagai perbandingan kaum pekerja di Nepal, menurut laporan CNN, sejumlah 350 orang Nepal yang pernah bekerja di Qatar membangun stadion sepak bola untuk skala Piala Dunia.

Tragisnya, kerap terjadi kematian pada pekerja, dalam 3 hari setidaknya 2 pekerja meninggal. ( Dapat dikatakan sama angkernya dengan bekerja menjadi pemandu di Everest )

Mirisnya, banyak pekerja yang telah menandatangani kontrak kerja, dalam kurun waktu 2 tahun, dan untuk pada tahun ketiga banyak dari mereka yang lebih memilih untuk melanjutkan bekerja di Qatar dari pada harus pulang ke Nepal.

Hanya sedikit yang memilih untuk pulang ke kampung halaman.

8. Para Sherpa di Eksploitasi? Sama sekali tidak benar.

Perihal ini hanya masalah persepsi, yang sebenarnya para Sherpa tidak di eksploitasi seperti yang banyak orang kira.

Faktanya beberapa pendaki sampai hari ini yang tidak sampai ke puncak, telah berhasil selamat sampai pulang, walaupun tanpa ditemani atau dukungan Sherpa.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Sherpa on duty
Sumber gambar: boombastis.com

Perlu diketahui bahwa Sherpa bekerja secara adil dan dengan upah yang layak, berbeda jika dibandingkan dengan oknum pemandu luar lainnya.

Beberapa agen resmi operator setempat, sudah memberlakukan beberapa tunjangan dan beban kerja untuk Para Sherpa.

Lain hal dengan Pemerintah Nepal yang memungut $15.000 dengan dalih sebagai asuransi jiwa.

Mirisnya penentuan batas nominal asuransi tersebut bukan ditentukan oleh Agen Operator, melainkan oleh fraksi politik Nepal sendiri.

Beberapa fakta lainnya, sudah sejak lama Agen Operator Resmi berjuang untuk mendukung keluarga Sherpa dalam mendapatkan tunjangan, yang dikarenakan beberapa Sherpa mengalami kematian semasa bekerja menjadi pemandu di Gunung Everest.

Beberapa organisasi terkemuka lainnya juga mendukung dari langkah Agen Operator tersebut, salah satunya Juniper Fund.

Jika memang terdapat pengeksploitasian Sherpa?

Hal tersebut kerap dilakukan oleh beberapa “oknum” perusahaan agen Nepal Kelas menengah kebawah, biasanya membayar Sherpa dengan lebih rendah dari harga pasaran pemandu Everest pada umumnya, memaksakan Jam kerja yang Panjang.

Parahnya.. demi mendapatkan banyak calon pendaki beberapa agen tersebut tak pikir Panjang menerima tawaran bayaran rendah dari calon pendaki Everest, yang berujung membebankan para Sherpa dan potensi kecelakaan para pendaki akan semakin besar.

9. Beberapa Pendaki Selalu Melangkah di Atas Tubuh Orang Mati Dalam Perjalanan Menuju Puncak Everest? Pernyataan ini sangat tidak tepat.

Gambaran terkait dengan melangkahi mayat, pernah terjadi oleh seorang pendaki yang berjuang untuk bertahan hidup melalui sisi utara yang bernama David Sharp pada tahun 2006.

Setelah diusut lebih dalam, ternyata dia mendaki tanpa cadangan Oksigen, solo hiking, dan beberapa peralatan ekspedisi yang dapat dikatakan tidak layak serta berpotensi terkena penyakit gunung akut, parahnya lagi dia tidak membawa Radio.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Beberapa mayat yg ada di trek Gunung Everest
Sumber gambar: travel.tribunnews.com

Lalu terdengar rumor, bahwa sekitar 40 orang pendaki termasuk Sherpa melangkahi tubuh David Sharp, lantas merekapun dianggap egois karena lebih mementingkan untuk sampai ke puncak ketimbang mementingkan nilai kemanusiaan pada saat itu.

Pada kenyataannya menurut penuturan pendaki dan para Sherpa pada saat itu, bahwa mereka telah berhenti beberapa saat, untuk memberikan pertolongan pertama, seperti memberikan oksigen dan obat-obatan lainnya, tapi sayangnya dia sudah mati.

Meskipun demikian, pendaki yang kerap melewati tubuh orang “Mayat” dalam perjalanan menuju puncak, kerap kesulitan dalam mengetahui orang tersebut hidup atau mati?, kecuali ada yang memberanikan diri untuk mengecek denyut nadi orang tersebut.

Perlu diketahui juga bahwa perihal melangkah atau meninggalkan mayat bukanlah sebagai alasan untuk tidak ingin menolong atau heroiknya membawa mayat tersebut turun?

Bagaimanapun, memberikan bantuan “secara kompleks” pada orang lain di ketinggian 28.000 kaki sangat membahayakan diri sendiri, apalagi ini menyangkut soal nyawa sendiri.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Fakta mayat yg ada di Gunung Everest
Sumber gambar: today.line.me

Setidaknya dibutuhkan lebih dari 10 Sherpa yang kuat untuk membawa atau memapah tubuh orang yang lumpuh, hidup atau mati.

Banyak pendaki yang menyerah atau bisa dibilang pasrah pada saat melalui kondisi atau cuaca extreme, jangankan ingin melakukan penyelamatan seperti di film-film pada umumnya, bahkan untuk melhat menyaksikan seseorang yang mungkin terbaring atau pingsan disalju dengan kondisi sedang menerobos badai sama sekali sulit untuk dilakukan.

Dapat disimpulkan ini bukan masalah egois atau kurangnya rasa kemanusiaan.

Walau dibeberapa kesempatan masih ada yang menahan diri untuk sampai ke Puncak, hanya karena anggota dalam kelompok tidak mampu melanjutkan perjalanan dan situasi yang berbahaya.

10. Masih banyak yang menganggap bahwa Pendakian Mount Everest merupakan sebatas perjalanan trek panjang, tanpa benar-benar memanjat!? Salah besar, berikut penuturannya.

Banyak yang menyangka, bahwa pendakian Gunung Everest hanya serangkaian jalan-jalan menanjak atau menurun lalu sampai ke puncak.

Pada kenyataannya, beberapa yang menganggap seperti itu, langsung terbungkam, dikarenakan melihat banyaknya kematian pada sekitaran 2014 – 2015.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Beberapa rintangan menuju puncak everest
Sumber gambar: fimela.com

Beberapa orang ahli pemanjat tebing “climber rock” mengclaim secara pasti bahwa panjat-memanjat bebatuan es yang ada di Everest merupakan upaya sulit jika menggunakan peralatan seperti Cams, piton, atau mur “nut, seperti yang biasa di lakukan pemanjat tebing ketika meraih puncak Dolomites atau Yosemite.

Dengan demikian, beberapa pemanjat es melihat perbedaan besar dalam hal ini, karena apa yang dilakukan mereka ketika memanjat sama sekali tidak mengayunkan kapak pada dinding es yang terkenal curam.

Yang kemungkinan aman dilakukan, hanya berpatokan pada titik depan crampon untuk mendapatkan keseimbangan sampai beranjak ke atas dengan selamat.

NB: Crampon adalah rantai besi yang di pasang pada bagian sepatu pendaki, berguna untuk menapak pada medan curam, memanjat dan untuk medan luar biasa lainnya. Seperti gambar dibawah ini.

Apa yang dilakukan sebagian besar pendaki Everest, selalu pada bagian inti memanuverkan gerak badan, kaki, tangan dan anggota tubuh lainnya. Karena hampir tidak mungkin berleha-leha atau bersenda gurau melewati rute es yang sulit, curam dan tidak rata.

Apalagi pada bagian angker gletser Khumbu “The Khumbu Icefall”, hal tersebut memaksa pendaki untuk lebih fokus dan prepare pada penggunaan jumar, agar badan tidak mudah jatuh ketika akan memanjat pada medan yang curam.
inilah fakta misteri keangkeran puncak tertinggi didunia, informasi biaya mendaki gunung everest, bisa melakukannya dibasecamp nepal dan tibet,
Meniti tepian jurang merupakan bagian dari pertualangan everest
Sumber gambar: travel.detik.com

Setelah itu, beberapa pendaki akan berebut dan berjuang dalam meraih ikat kuning pada batu tingkat 4 atau yang biasa disebut Hillary Step sebagai tahap kedua untuk sampai ke Utara.

Demi apapun, para pendaki kerap bergerak mati-matian walau sebenarnya kemampuan untuk hidup telah menurun drastis, yang dikarenakan minimnya oksigen, dingin, cuaca dan kelelahan yang luar biasa.

Dan inilah, Everest bukan sekedar gunung, melainkan tentang ketinggian tertinggi di Bumi ini.


Bagaimana? Sampai disini, apakah kamu masih tertarik untuk bercita-cita ke Gunung Everest, atau semakin tertantang?

Untuk itu, sekian artikel kali ini yang mengulas tentang 10 Fakta Misteri Gunung Everest, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.

Jika terdapat saran, kritik dan komentar silahkan cantumkan pada kolom komentar dibawah ini.

Terima kasih. Salam Lestari.

Referensi:
http://www.alanarnette.com/blog/2015/08/31/top-10-everest-myths/
Guido Famula Seorang Penulis Online yang menyukai Traveling, Aset digital, Marketing dan Social Media. ~ Beranjak dan Menulislah ~

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "10 Fakta Misteri Gunung Everest Yg Kerap Di Perdebatkan Dunia"

Posting Komentar

Komen yang santhuy ya, jaga jari dari bahasa-bahasa Kebun Binatang, Umpatan dan bahasa jenis kelamin lainnya.

Terima kasih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel