Gunung Bawang PART 1 - Petualangan 14 Jam Menuju Puncak

Naik ke Puncak gunung yg notabene bukan gunung aktif, memberikan pengalaman tersendiri bagi si pendaki, tak terkecuali saya pribadi.

Salah satunya adalah Gunung Bawang, dengan ketinggian 1471 MDPL, banyak yg mengatakan tidak lebih dari sekedar bukit yg tinggi.


Terletak di Kab Bengkayang, Kalimantan Barat, Gunung bawang menjadi puncak tertinggi nomor 2 (kalbar) sebelum Gunung Niut. (Koreksi bila salah)

Penampakan Gunung dari Basecamp (Lembah Bawang).
Terlepas dari informasi dan deskripsi Gunung Bawang, kamu bisa membaca lebih lengkap di berbagai sumber google, dijamin semuanya valid.

Dalam hal ini, saya akan membagikan pengalaman untuk kawan-kawan sebagai penikmat alam, siapa tahu dari pengalaman yg dibagikan ini menjadi informasi tambahan.

Saat itu kami yg tergabung dari 8 anggota ( 5 Cowok - 3 Cewek ) berangkat menuju Kota bengkayang pada Pukul 23:00 WIB ( Jumat, 7 Desember 2018 ) dari kota pontianak menggunakan 5 Sepeda motor.

Lumayan memacu adrenalin serta mengasah mental ketika berkendara pada malam hari menyusuri jalanan gelap, kecil dan terkenal horor.

Untung saja saat itu tidak terjadi apa-apa, kami pun tiba di Kota Bengkayang pada pukul 03:00 WIB, lalu singgah sebentar di Salah Satu Masjid Kota.

Di Masjid tersebut, kami beristirahat, ada yg Sholat dan ada yg tidur yaitu saya sendiri hehe.

Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju daerah Lembah Bawang pada pukul 06:00 WIB ( Menuju Base Camp Gunung Bawang ).

View yang indah diambil pada saat awal masuk desa.
Sekalian juga mencari tempat untuk sarapan, suasana pedesaan yg sejuk dan segar menemani kami sepanjang jalan, setelah berkendara konvoi selama 1 jam, kami mememukan warung makan yg menjual Bubur, mie instan dll.

Kalau tidak salah, warung tersebut masih disekitaran Sungai Betung, pemandangan nya sungguh luar biasa, karena di apit oleh 2 bukit.

Selesai kami sarapan, kami melanjutkan perjalanan langsung ke Lembah Bawang.

Sekitar 07:30 WIB, kami melakukan perizinan sembari ramah tamah terhadap warga desa.

Info untuk kamu yg akan berangkat menuju Gunung Bawang, bahwa untuk mendaki disana tidak memerlukan Simaksi.

Benar-benar masih konvensional dan sepi oleh pengunjung.

Untuk perihal uang administrasi, kami hanya membayar Rp. 5000 per orang kepada Ketua RT Setempat.

Kami juga memilih untuk menggunakan Guide (Relatif Rp 300.000 / tergantung jumlah anggota pendakian)

Sebenarnya bisa saja menuju puncak tanpa Guide, akan tetapi demi kenyamanan dan keselamatan bersama, kami sepakat menyewa Guide. ( Bahasa Halusnya Berbagi Rejeki )

Sekitar Pukul 08:00 WIB perjalanan di mulai !

Belum terlalu sempit dan belantara, karena masih dekat dengan area perkampungan.

Tapi terjal nya perjalanan tidak bisa bohong. heheh

2 jam kemudian kami sampai di post 1, disekitaran post ini masih sangat dekat dengan sumber air (Riam), jadi tak perlu takut dengan kekurangan air.
Dokumentasi setelah beranjak dari post awal, MASIH SEGAR
Kami beristirahat sejenak, sambil mendengarkan Guide kami bernyanyi lagu Pop Malaysia.

Umur nya baru 14 Tahun, langkah nya sudah seperti 30 tahunan yg menjadi juru kunci Gunung Bawang.

Bayangkan saja, dia mampu bernyanyi lantang ketika perjalajan menanjak, padahal untuk menuju Puncak, tracking 98% menanjak tanpa ampun.

Sungguh luar biasa gesit, lincah dan kuat !

Itulah gambaran dari seorang Guide Cilik Kami pada saat itu.

Setelah beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sudah masuk di areal belantara, sekelas sinar matahari pun kiranya kesulitan menembus dedaunan yg berkelompok melindungi daratan.

Wajar, lumut dan pacat berkembang sejahtera disini, huft !

Sudah menanjak, jalanan pun dihiasi dengan halang rintang kayu-kayu melintang, yg sengaja dibuat untuk rell.

Maksudnya?

Rell disini sebagai "METODE PESAWAT SEDERHANA" untuk menyeret hasil sumber alam 'Kayu' dari hutan menuju perkampungan.

Nah jadi disini, dalam pengambilan kayu diperbolehkan, tetapi hanya untuk pembangunan rumah dll dengan kata lain consumable warga desa, bukan untuk diperjual belikan.

Aturannya sih seperti itu.

Oke skip membahas kayu atau penebangan segala macam.

Jadi, bagi pembawa carrier / keril, melangkahi satu persatu rell tersebut sangat amat menguras tenaga dan melelahkan tungkai kaki.

Jadi saran bagi kamu yg akan berangkat ke Gunung Bawang, alangkah lebih baik prepare pada Ultra Light.

Ingat ya !! ULTRA LIGHT, bukan seenaknya hanya membawa pakaian ganti tanpa logistik, p3k dan perlengkapan penting lainnya.

Ingat, tagline hiking, lebih baik berlebih dari pada kekurangan !

Sabtu, 8 Desember 2018 !!

Cuaca sedang tidak bersahabat, alhasil kami pun kehujanan.

Untung saja dedaunan yg rindang melindungi kami dari deras nya hujan.

Sehingga kami masih sempat memasang mantel/ponco.

Mau berteduh? Tidak bisa, karena belum menemukan pondok / Gua.

Kami terus melanjutkan perjalanan untuk menuju post selanjutnya.

Gerak perjalanan kami sedikit terhambat, karena serangan pacat pada saat itu sungguh membabi buta.

Terlebih beberapa dari kami, masih ada yg belum terbiasa dihinggapi pacat, termasuk saya sendiri hehe.

Pukul 13:00 WIB kami sampai di sebuah batu besar beratap Goa.

Sekilas seperti berbahaya, dikhawatirkan sebagai sarang ular kobra atau beruang.

Salah satu dari kami dan Guide, mengecheck terlebih dahulu sekitaran Gua.

Setelah dirasa aman, kami melakukan persiapan untuk makan siang dan coffee break.
Penampakan guide cilik kami, ketika kami berteduh dalam Goa Batu, sekitar pukul 13:00
Sembari menanti hujan reda yg sedari tadi makin deras.

Suasana siang seperti petang pada saat itu.

Disini kami membuat api unggun kecil-kecilan untuk menghangatkan tubuh yg kesejukan, terlihat jari-jari tangan kami sudah mengerucut dan beberapa dari kami ada yg hampir biru jarinya.

Lebay tapi Fakta !

Menikmati segelas kopi dan sebat dua bat, menjadikan kami benar-benar sebagai penikmat senja, padahal masih siang hehe.

Setelah perihal perut terkondisikan, pukul 14:00 WIB melanjutkan perjalanan.

Dengan cuaca yg masih sama, hujan !!

Masih setia bersama ponco yg sudah koyak karena genitnya ranting yg selalu mencolek, atau mungkin kami yg terlalu dekat dengan dedaunan ranting?

Bodo ah!! Karena memang tidak ada akses yg normal, jadi waspada kepala dan tangan, jangan sampai sesuatu berduri menempel.

Seperti kejadian salah satu dari kami yg kepalanya sukses didaratkan kepada batu yg diam ( Bukan duri heheh )

Peristiwa tersebut terjadi pada saat saya dan beliau (sebut saja Feddy) di posisi paling belakang, sedang fokus merayapi bebatangan pohon tumbang.

Saking konsentrasinya untuk menyeimbangi tubuh yg terbebani tas keril, tak sadar batu yg menjorok kedepan tadi ditabrak dengan spontan oleh Feddy.

Padahal saya yg didepannya, sudah memberikan informasi.

ROCK !!!!

Bukan seperti itu, teriakan diatas hanya ada ketika Summit di gunung - gunung jawa heheh.
Melepas lelah ketika berada dipuncak bayangan. setelah 9 Jam menembus belantara.
Mungkin saking fokusnya, Feddy kurang fokus mendengar.

Dan ....
BERSAMBUNG...

Lanjutkan membaca di artikel Gunung Bawang Part 2.

Terima kasih.
Guido Famula Seorang Penulis Online yang menyukai Traveling, Aset digital, Marketing dan Social Media. ~ Beranjak dan Menulislah ~

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Gunung Bawang PART 1 - Petualangan 14 Jam Menuju Puncak"

Posting Komentar

Komen yang santhuy ya, jaga jari dari bahasa-bahasa Kebun Binatang, Umpatan dan bahasa jenis kelamin lainnya.

Terima kasih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel