Gunung Bawang PART 2 - Menembus Gelap diantara tepian Jurang Meraih Puncak

Bagi yang baru membaca laman ini, disarankan untuk membaca terlebih dahulu artikel sebelumnya, yaitu: Gunung Bawang Part 1 - Petualangan 14 Jam Menuju Puncak.

...

Alhasil Benjol !!

Mencari P3K alias balsem di seluruh kocek tas hingga kocek celana, tapi tak kunjung jumpa.

Mmmm.. 10 menitan mencari, ternyata balsem ada di rombongan depan, yg digunakan hanya untuk mengusir pacat hehe.
Nah.. ini suasana pembangunan camp kami yang tepat berada di puncak bawang.

Padahal benjolnya lumayan juga pada saat itu.

Ya sudah lanjut saja, kata feddy dengan sedikit nyengir.

“Mau ngakak, tapi dihutan !!” pikir saya kala itu hehehe.

Sesampai di post berikutnya, kami memilih untuk melanjutkan perjalanan, karena hanya berjarak 1 jam an dari skandal TKP kejedot batu.

Kami sepakat langsung menuju puncak !!

Puncak bayangan sih.

Pukul 17:47 WIB kami sampai di puncak yg katanya hanya bayangan..

Dasar PHP !!

Untuk menuju Puncak Bayangan, benar-benar mengikis mental, mungkin karena hujan, sehingga track menanjak jadi licin parahh !!

Belum lagi pacat-pacat yg semakin menjadi-jadi.

Sampai-sampai saya pun cuek, bodo amat dengan pacat, mau nginggap kek, mati kek, keinjek kek.

Sembari duduk istirahat, saya membuka sandal untuk bertelanjang kaki.

DJANCUOKK !!

Pacatnya udah segede gaban !!!

Akhirnya saya pun sukses donor darah tanpa sadar, mereka ciwi ciwi pun kaget bukan kepalang, sampai menyerahkan parang empunya guide kepada saya.

“Bg.. Bg bunuh !! Bunuh !!” kata mereka ciwi ciwi

Saya memilih tidak membunuh pacat itu, karena hanya buang-buang waktu membunuh pacat, lama matinyaaa !!

Dokumentasi ketika jalan pulang, jangan tanya dimana pacatnya, karena sudah di usir hehe
Padahal saya sudah geram, ingin sekali membakarnya, namun itu sangat dilarang.

Karena dihutan sangat anti untuk membakar darah, bisa mengundang hal ghaib.

Suhu semakin dingin, makin lama makin buat tubuh gemetar.

Sekitar pukul 18:00 WIB, kami melanjutkan perjalanan babak akhir, yaitu SUMMIT KE PUNCAK BAWANG.

Tapi walaupun summit, kami tetap membawa semua tas-tas perlengkapan kami.

Karena di PUCUK nya kami akan berkemah heheheh.
Kalau tidak salah, poto ini diambil sekitar pukul 6 pagi.
Jalur track sempit, meniti layaknya tebing, karena jurang yg sangat dekat.

Belum lagi dengan tekstur tanah yg dominan lembut, seperti tanah hisap, salah sedikit saja dalam melangkah = Terperosok ke jurang.

Akar – dahan melintang tanpa permisi, kami harus menjorok, tiarap dan parahnya !! Kami pembawa keril harus merayap layaknya Latihan Tentara, heemmm.

Kerennya lagi, cuaca masih tetap hujan, tanpa berhenti sedikit pun.

Mantel dan ponco sudah seperti kulit sendiri, hanya orang gila yg tak menggunakan ponco pada saat itu !! Heheh

Sesudah tiarap dan merayap kami lakukan, ada satu track gila yg gila segila-gilanya, yg belum saya temukan ketika naik puncak-puncak lain ( namun Puncak Pelaminan Tetap yg Tersulit ).

Ketika 2 jam menuju Puncak, kami melakukan climbing zig zag, karena letak jalur pendakian diatas kepala kami, dengan banyak melalang melintang batang, akar tarzan pepohonan.

Saya hampir down kala itu, mau istirahat sejenak, tapi lokasi berpijak kala itu sangat berbahaya (rentan terguling karena licin), jadi harus sukses melewati tebingan kayu tersebut.

Kami pun saling memberi semangat, dengan suara seadanya, karena sudah lelah hayati.

Pertengahan ketika memanjat, keril ini semakin berat, hampir saja tertolak kebelakang.

Aneh sih, tapi maklum, ini dihutan hehe.

Jika saat itu tertolak kebelakang, saya yakin akan menjadi efek domino terhadap rombongan lain dibelakang.

Mungkin semua dari kami terguling kejurang, karena posisi saya yang dibelakang Guide Sang pemimpin jalan.

“Akhirnya sampai juga” ucap Guide kami

Kami pun berisitirahat, melepas tas, tertawa lega dan membuka logistik snack untuk mengganjal perut.

“Yuk kita lanjut lagi, 15 menit lagi sampai puncak” Kata-kata mutiara paling menjengkelkan dari Sang Guide pada saat itu.

“Lah… Jadi ini belum sampai puncak?” Saya yg sedikit nge gas – rem blong kawan hehe

“Ini puncak 2 bang, puncak utamanya masih di atas”
Beberapa spot belantara ketika menuju Puncak.
Saya pun keliling melihat sekitar dengan head lamp yg hampir temaram.

“Iya juga ya, masak iya puncak masih ada pohon-pohon rapat begini” Gumam saya dalam hati dan mengiyakan untuk melanjutkan perjalanan kembali

Ternyata 15 menit hanya bagian sales marketing Guide agar kami tetap semangat.

Sudah 20 menitan kami belum menjumpai tanda-tanda lepas dari vegetasi.

Anehnya Guide menyuruh kami berhenti sebentar, lalu dia berbelok ke kiri (Bukan jalur pendakian)

“Mau kemana AL?”

“Tunggu jak dulu disitu”

“Njirr.. Makin kesini, makin misterius nih si Guide”.

Lalu baru beberapa langkah, Si Guide seperti menjorok ke arah Jendela !!

Iya !! JENDELAA !! Anehkan?

Saya pun makin aneh, dan mendekati dia.

Apa itu Goa, lobang atau ???

“Jedorrrr !!”

Sebuah botol kosong terlempar ke tanah.

“Apa ini AL?”

“Botol lah, untuk kita minum di puncak nanti” Jawab nya yg singkat padat dan elegan

Kami pun mematung sesaat.

Dan saya coba mendekati tempat asal botol yg di lempar oleh si AL.

NJIRR !!

Ternyata pondok dong !!!

Saya mulai berfikir keras, bagaimana cara membangun pondok kayu tersebut? Bagaimana cara mereka menggotong kayu sampai ke lokasi ini?

Padahal pohon didekat sini tidak boleh dan sulit ditebang, berarti pengambilan kayu nya diarea Post 1 – 3 barusan??

Luar biasa!! Tenaga King..

Auh ahh..mari lanjut perjalanan.

Masing-masing dari kami membawa 2 botol kosong, 2 dikali 9 orang = 18 Botol. Lumayan untuk stock air pas di puncak.

Masalahnya, Dimanakah sumber air tersebut??

Dengan tenaga yg seadanya, kami sampai di sebuah kolam yg hanya sebesar baskom ukuran sedang.

Sedikit kekuningan, tetapi segar dan sejuk.

Menurut informasi, air tersebut hasil dari tetesan lumut basah disekitarnya.

Wow !!

Tapi ini beneran sejuk, dan ini satu-satunya sumber air terdekat di Puncak Bawang.

Saya membayangkan, bagaimana kelak gunung bawang bisa mencapi 600 orang kunjungan perhari.

Bisa-bisa konflik pertumpahan darah nih, karena mengantri air kolam yg hanya sebesar baskom.

Setelah semua botol terisi, kami melanjutkan lagi untuk menggapai puncak bawang sesungguhnya, ya elah hehehe

Kurang lebih 16 menitan, kami sudah sampai dengan selamat dan sehat waalfiat ( 21:48 WIB )

Suasana masih rintik-rintik hujan, tak lama kemudian hujan pun berhenti.

Kami dengan sigap mempersiapkan kebutuhan dan perlengkapan camping.

Ada yg memasang tenda, ganti pakaian, memasak dan sibuk mencari tempat boker yg syahdu.

Beberapa jam setelah camp dibangun, kami standby bersama di area masak-masak, sembari menahan liur dan mengganjal perut dengan snack ( mie instan mentah hehe )

Saya Mendengarkan salah satu teman untuk curhat, tentang kesan menanjak tadi.

“Fed, biasa aja ceritanya, jangan muncrat gitulah” celetukan kepada feddy.

Ternyata gerimis mengundang dong, dan air gerimis pun makan lama makin ramai, hujan DERAS !

Perlengkapan masih berserakan diluar, dengan sigap kamipun menyelamatkan barang-barang yg rentan terhadap air.

Kami juga mencari tongkat kayu, untuk membangun emergency dapur, menggunakan fly sheet seadanya.

“Akhirnya, ada gunanya juga fly sheet ini”

Berbentuk kotak dengan segita kerucut pada atap, adalah sebuah mahakarya yg mampu menyelamatkan barang-barang perlengkapan kami.

Di Gubuk sederhana itu, kami kembali melakukan agenda masak-memasak, sekaligus menikmati rasa tepar dan pegal yg belum hilang,

Sampai pukul 11 malam-an, makanan yg kami racik sudah siap untuk disantap, akan tetapi beberapa teman sudah terlelap duluan.

Deras nya hujan diluar membuat kami makin keroncongan, hebatnya teman-teman yg terlelap duluan dapat tidur nyenyak dengan perut kosong, sungguh kelelahan yg hakiki.

“GEBRAK !!!”
Karena sudah gelap dan diselingi hujan yang awet, kami tidak bisa mendokumentasikan seperti foto atau video, belum lagi kiri dan kanan kami sangat dekat dengan jurang. Jadi harap maklum
Terdengar suara tabrakan diluar, lumayan mengagetkan kami di dalam flysheet.
Mohon maaf kalau kaos nya tidak singkron dengan tulisan gunung bawang.hehe
Oh ya jangan lupa follow Instagram saya ya @guidofamula
BERSAMBUNG...
PART 3 – COMING SOON

Jangan lupa nyalakan pemberitahuan, agar ketika update artikel ini, kamu langsung mendapatkan notice secara cuma-cuma.

Oke Salam Lestari. Terima kasih.
Guido Famula Seorang Penulis Online yang menyukai Traveling, Aset digital, Marketing dan Social Media. ~ Beranjak dan Menulislah ~

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Gunung Bawang PART 2 - Menembus Gelap diantara tepian Jurang Meraih Puncak"

Posting Komentar

Komen yang santhuy ya, jaga jari dari bahasa-bahasa Kebun Binatang, Umpatan dan bahasa jenis kelamin lainnya.

Terima kasih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel