Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Riam Unga – Wisata Air Terjun Yang Bukan Untuk Liburan Keluarga

Mengacu pada artikel sebelumnya yang mengulas tentang Air Terjun Bedawat.

Sesuai judul pada kali ini “Bukan Liburan Keluarga”, lebih tepatnya sebuah wisata konvensional yang mengedepankan minat khusus.

Selain dikarenakan jauh, untuk mencapai ke Puncak Riam Unga juga membutuhkan will power.

“Bukan, parkir kendaraan langsung sampai di lokasi.”
Penampakan bawah Riam Unga, mesti hati-hati.
Jika diasumsikan, perjalanan dimulai pada Kota Pontianak hingga ke puncak Air Terjun Unga, rata-rata waktu yang di butuhkan kurang lebih 16 Jam ( Jika tanpa istirahat ).

Dan bukan tidak mungkin dapat menghabiskan waktu seharian di perjalanan, karena istirahat merupakan agenda penting yang harus diprioritaskan juga.

Bagi kamu yang belum tahu, terkait lokasi Puncak Riam Unga, berikut penjelasannya:

Riam Unga terletak di Hutan Adat Desa Dange Aji, Kec Air Besar, Kab Landak, Kalimantan Barat, masih sama persis dengan letak air terjun bedawat.

Ketika kamu sudah sampai di Air Terjun Bedawat, mengapa tidak, untuk meneruskan kunjungan ke Puncak Riam Unga?
Pondok didekat camp Riam Bedawat, FYI pondok ini dapat disewa, kalau tidak dengan harga 60k permalam.
Selain indah, kamu yang berkunjung kesana akan dimanjakan dengan asri nya hutan hujan tropis belantara Kalimantan barat.

Serta mendengar sesautan burung-burung khas penunggu hutan, belum lagi sound therapy sungai riam yang selalu me-ritme di telinga pengunjung.

Tapi perlu digaris bawahi juga, untuk Riam Unga termasuk wisata minat khusus loh, tidak direkomendasikan bagi kamu yang berencana membawa keluarga kecil (terdapat balita).

Karena tak menutup kemungkinan, rute-rute yang dilewati bakal menjadi rintangan yang cukup sulit, apalagi jika kamu membawa sanak saudara yang belum terbiasa dengan menjelajah rute “out bound”.
Bisa-bisa pada minta balik?

Teruntuk kamu para pecinta dan penikmat alam, terlebih yang sangat antusias dengan pemandangan Air Terjun, Riam Unga menjadi salah satu pilihan terbaik jika kamu akan berencana mengeksplore Kalimantan Barat.

Perihal Budget yang dikeluarkan juga tidak terlalu mahal, cukup membayar Uang Registrasi Rp 10.000,- per orang + membayar Guide/petunjuk jalan yang hanya Rp. 150 Ribu ( Update Harga pada tahun 2018 ).

Sisanya, tergantung bagaimana memanajemen keuangan atau logistik selama perjalanan untuk menuju Desa Dange Aji.

Bonus yang tak kalah menarik, jika kamu sudah sampai di trekking hutan antara Riam Bedawat – Unga, kamu bakal menjumpai beberapa burung enggang gading yang masih bebas terbang tanpa takut di culik pemburu.

Oh iya, bagi pengunjung sangat dilarang keras membawa senjata api seperti senapan atau sejenisnya.

JIka beruntung, kamu juga akan melihat burung Ruai, yang lumayan ikonik di Pulau Kalimantan, salah satunya filosofi tarian Suku Dayak terdapat pada Burung Ruai yang pandai menari.

Jika kamu penasaran, kamu bisa menonton terlebih dahulu di youtube dengan keyword: “Burung Ruai Menari”.

Tapi, beberapa masyarakat setempat mengatakan kalau Burung Ruai sudah punah, jika ada pun, sangat sulit ditemukan.

Padahal burung Ruai ini indah sekali, apalagi pada saat sesi menari dengan mengembangkan ekor sayapnya, hampir mirip dengan keindahan warna Burung Cendrawasih.

Ketika kamu sudah sampai di muka Riam Unga, jangan lupa untuk mengecheck beberapa anggota badan, siapa tahu banyak melekat beberapa Pacat atau yang biasa disebut lintah darat.
Jangan kaget kalau beberapa pacat hinggap ditubuh kamu dan team

Pacat dan lintah darat, beda atau sama ya?
Namun tenang saja, jika kamu berkunjung pada saat musim kemarau, yaitu sekitaran Bulan Maret – Juli, dijamin aman dari pacat, palingan hanya beberapa buah, itupun hanya terdapat dizona-zona tertentu, salah satunya di zona lembab, basah atau berlumut.

Jika melewati salah satu rute tersebut, kamu harus lebih berhati—hati dan harus mempercepat gerak jalan, dijamin aman dari pacat.

Tidak menjamin sih, namanya juga pacat, selalu tanpa rasa ketika hinggap.

Perlu diketahui juga, bahwa di Riam Unga memiliki struktur bertingkat dan berbatu besar, dituntut kehati-hatian bagi para pengunjung, terutama bagi kamu yang akan memanjat/menanjak untuk sampai ke puncak, yaitu di puncak Air Terjunnya, yang kurang lebih 90 meteran.
Poto diambil pada tepian bawah air terjun unga
Jika tak salah hitung, Riam Unga memiliki 5 – 6 patahan/terasering.

Namun rekomendasi yang baik, jika kamu ingin mencapai puncak, kamu bisa melewati tepian tebing, dengan menyisir setiap pepohonan yang berada di sebelah kanan, jika posisi kamu berhadapan dengan muka riam.
Indah bukan? tapi lebih indah jika kamu datang dan menikmatinya langsung
Sangat tidak disarankan, jika kamu memilih untuk melewati tebing pada sebelah kiri, karena untuk mencapai tersebut:

Pertama kamu harus mampu menyebrangi aliran air terjun yang lumayan deras, terpeleset sedikit saja bisa bikin celaka, karena bawah dari aliran tersebut adalah kolam air terjun yang tak menutup kemungkinan terdapat bongkahan batu yang besar.
FYI.. jangan sembarangan melompat di air terjun ini, karena dibawah terdapat banyak sekali bebatuan cadas.
SANGAT BERESIKO


Jadi sangat berbahaya.
Tapi jika penasaran, kamu boleh coba, dengan resiko ditanggung pemenang.

Ketika pada sore hari sekitar pukul 16:00 ke atas, pengunjung dihimbau untuk kembali ke spot camp pada area Riam Bedawat, karena biasanya debit air Riam Unga bakal bertambah lebih dari biasanya.

Untuk perihal membuat api unggun, pengunjung tak perlu jauh-jauh mencari kayu api sampai ke tengah hutan, karena di sekitar spot camp banyak juga stand by beberapa kayu api untuk persiapan BBQ.

Tapi konon katanya, jika ingin membakar ikan atau ayam, tempat bara api nya harus dipisahkan, jadi harus membuat dua api unggun, hal tersebut dikarenakan, percaya tidak percaya, jika hanya menggunakan satu tempat panggangan saja dapat mengundang roh halus sekitaran hutan loh.
Logistik kami untuk 3 orang, sangat lebih dari cukup.
Menurut kesaksian beberapa orang, pernah ada yang mengalami, tiba-tiba ada angin besar yang seakan-akan mau menghempas tenda.
Percaya tidak percaya, lebih baik di taati saja, dari pada celaka.
Oh iya satu lagi, jika menemukan pacat jangan sekali-kali membakarnya, karena menurut petuah “orang tua”, membakar darah di hutan sangat tidak direkomendasikan, kembali ke alasan seperti memanggang ikan atau ayam di atas.

Intinya jangan membakar sesuatu yang bau amis, seperti darah, terasi dan sejenisnya.


Untuk spot camp, pada muka riam unga memang tidak diperkenankan untuk membangun tenda, selain karena sulit menemukan permukaan yang rata.

Berkemah di sekitaran riam unga juga berpotensi berbahaya, ya seperti serangan hewan malam, khawatir air bah, dan menurut rumornya juga terdapat penunggu yang lumayan jahil.

Baiklah kawan-kawan, sekian dulu artikel yang mengulas tentang Panorama Keindahan Air Terjun Riam Unga, yang terletak di Pedalaman Desa Dange AJi, Kec Air Besar, Kab Landak, Kalimantan Barat.

Berikut Video Selayang Pandang Terkait Perjalanan Menuju Riam Unga.


Bagi kamu yang akan merencanakan keberangkatan ke riam unga, selamat bersenang-senang dan selamat sampai pulang.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.

Jika terdapat pertanyaan, saran dan kritik, kiranya dapat dicantumkan pada kolom komentar dibawah ini.

Salam Lestari.
Guido Famula
Guido Famula Seorang Penulis Online yang menyukai Traveling, Aset digital, Marketing dan Social Media... ~ Beranjak dan Menulislah ~

Posting Komentar untuk "Riam Unga – Wisata Air Terjun Yang Bukan Untuk Liburan Keluarga"

Template Blogger Terbaik Rekomendasi